BPPT Genjot Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah
Rabu, 13 Februari 2019 11:29 WIB
Pemulung beraktivitas di dekat instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang di Bekasi, 21 Maret 2018. Ini merupakan pembangkit listrik tenaga sampah kedua di Indonesia setelah Bali. ANTARA/Risky Andrianto
Pemulung beraktivitas di dekat instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang di Bekasi, 21 Maret 2018. Ini merupakan pembangkit listrik tenaga sampah kedua di Indonesia setelah Bali. ANTARA/Risky Andrianto
 
TEMPO.COJakarta - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan mengoptimalkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Kepala BPPT Hammam Riza menjelaskan, bahwa PLTSa juga akan menjadi penyelesaian masalah timbunan sampah di perkotaan.
 
"BPPT tentu segera menyelesaikan fasilitas ini pembangkit listrik tenaga sampah pertama di Indonesia, sebagai solusi masalah timbunan sampah di kota-kota besar, khususnya DKI Jakarta," ujar Hammam saat meninjau tempat pembuangan akhir Bantar Gebang, Selasa, 12 Februari 2019.
 
BPPT akan menggunakan cara pengolahan sampah menggunakan teknologi termal, karena mampu memusnahkan sampah dalam waktu yang cepat dan signifikan. Teknologi tersebut juga dapat memusnahkan sampah hingga kapasitas 50-100 ton per hari. Menurut Hammam, inovasi pengolahan sampah proses thermal diklaim merupakan metode yang tepat untuk mengatasi sampah yang semakin menggunung.
 
"Saya meyakini bahwa pilot project ini dapat digunakan sebagai percontohan teknologi pengolahan sampah ramah lingkungan serta dapat menyelesaikan permasalahan sampah secara tuntas," tutur Hammam. "Selain itu, pembangunan PLTSa merah putih ini juga didukung oleh industri dalam negeri. Hal ini penting agar nilai tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) juga tinggi."
 
Hammam berharap dengan adanya pengembangan PLTSa, yang berdasarkan Peraturan Presiden, BPPT mampu tampil menjadi yang terdepan. Ke depannya, Hammam berujar, jika model PLTSa menjadi rujukan untuk dibangun di tengah kota, maka harus dikaji bersama agar dihasilkan model terbaik.
 
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DKI Jakarta Isnawna Adji, menyatakan bahwa teknologi yang diterapkan di TPA Bantar Gebang dapat menjadi percontohan bagi Indonesia. "Ke depan kota-kota yang mempunyai permasalahan sampah sudah saatnya membangun PLTSa dan referensi saya adalah dengan menggandeng BPPT," kata Isnawna.
 
Menurut Isnawna, tempat pembuangan sampah akhir Bantar Gebang dengan luas 110 hektare setiap harinya dapat menerima kiriman sampah hampir 7.000 ton. Dengan teknologi termal BBPT diharapkan dapat mengatasi timbunan sampah tersebut.

source: https://tekno.tempo.co/read/1175181/bppt-genjot-pembangunan-pembangkit-listrik-tenaga-sampah/full&view=ok